Lokernusa

Air Sambas, Bukan Pesawat ini Bus Offroad Kalimantan

Air Sambas, namanya seolah nama maskapai penerbangan. Namun sebenarnya Air Sambas adalah Bus Offroad di Kalimantan
Air Sambas, Bus Offroad Kalimantan

Air Sambas, namanya seolah nama maskapai penerbangan. Namun sebenarnya Air Sambas adalah Bus Offroad yang akan mengantarkan kita masuk ke wilayah Temajuk. Kenapa dinamakan Bus Offroad karna bentuk ban nya yang tak lazim dan trek yang dilalui adalah trek berat seperti di event kejuaraan offroad. Bus ini bisa di carter dengan biaya Rp. 5 juta untuk sekali jalan dari Sambas menuju Temajuk.

Sepanjang perjalanan Badan bus terus bergetar mengikuti permukaan jalan, miring ke kanan dan kiri 10 hingga 25 derajat. Romansa yang sama seperti menaiki wahana bermain tornado. Decitan jendela dari bis menambah keriuhan suasana perjalanan setiap kali beradu dengan jalanan yang tak ada mulus-mulusnya. Well said, live is never flat, Man!. Ini juga yang menjadikan alasan kenapa pak sopir sedari berangkat memutar lagu dangdut bervolume tinggi. Perjalanan yang memicu adrenalin sekaligus membuat kita tak lupa untuk "berdzikir" sepanjang jalan.

Sekali lagi, berjibaku dengan jalanan Sambas memang harus sabar, apalagi saat ramadan seperti ini.

Usai ber-tornado ria dengan Air Sambas, tibalah kami di penyeberangan pertama Tanjung Harapan, di tepian Sungai Musi kecil kami menunggu kapal feri mengangkut bis (dan kami juga tentunya). Seperti orang udik, rasa itulah yang pertama kali terasa ketika melihat satu demi satu motor digiring bersama penumpangnya naik sampan, hal yang jarang kami temui di pulau Jawa.
 
Air Sambas, Bukan Pesawat ini Bus Offroad

 Destinasi selama beberapa menit menyeberang Sungai Musi kecil adalah Teluk Kalong. Ditandai dengan keberadaan sebuah Klenteng kecil berwarna merah. Tak mau kehilangan momen, kita bisa naik ke atas dek kapal dan berkenalan dengan nahkoda kapal yang ternyata sudah hilir mudik membantu penyeberangan selama kurang lebih tujuh tahun. Bisa dikatakan orang lokal Kalimantan Barat begitu hangat dan bersahabat, "ditanya mau menjawab, disapa mau membalas".

Menjejakkan langkah di Borneo dalam 24 jam pertama terasa begitu bermakna, apalagi saat melihat kapal feri lain yang tengah bersandar di Teluk Kalong bertuliskan "We bridge the nation- bangga menyatukan nusantara". Seketika itu menyeruak rasa bangga dan bahagia dapat sampai di bumi Borneo, apalagi untuk pertama kalinya dan langsung bisa mengenal rupa ujung Borneo, Indonesia, yang mungkin tak semua orang akan mempunyai kesempatan yang sama.