LOKERNUSA.COM

Tjilik Riwut, Anak Rimba Legenda Kalimantan Tengah

Tjilik Riwut, Anak Rimba Legenda Kalimantan Tengah

Tjilik Riwut abadi sebagai nama bandara, jalan, dan sekolah kepolisian di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Figurnya melegenda bagi warga Kalimantan Tengah, terlebih untuk orang Dayak. Ia juga seorang nasionalis, yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah telah menggenapi profilnya dengan gelar pahlawan nasional pada 1998--sekitar 11 tahun setelah dirinya berpulang.

Barang kenangannya bisa ditemukan di Rumah Tjilik Riwut, Jalan Jenderal Sudirman No. 1, Palangka Raya. Kafe dan galeri mini itu dikelola anak cucunya. Salah satunya Kameloh Ida Lestari, anak keempat Tjilik Riwut.

"Persis 17 Agustus 2017, tahun keempat Rumah Tjilik Riwut," kata pemilik sapaan karib Ida Riwut itu. "Peninggalan beliau banyak yang kami sumbangkan ke museum. Tapi masih ada foto, baju, dan bintang jasa beliau yang tersisa. Itu kami kumpulkan untuk bikin galeri mini di sini."

Ida mengenang bapaknya sebagai figur disiplin dan "angker" bagi anak-anaknya. "Mungkin karena latar belakangnya militer," katanya.

Meski punya jejak kemiliteran nan panjang, Tjilik Riwut tak cuma piawai di balik bedil. Sebelum jadi serdadu, ia berjuang dengan pena dan menekuni jurnalistik. Kala membangun daerahnya, ia unjuk kecakapan sebagai birokrat, kepala daerah, dan politisi.

Putra Dayak nan nasionalis

Tjilik Riwut merupakan orang asli Dayak Ngaju. Ia lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah, pada 2 Februari 1918 . Ida Riwut menyebut bapaknya lahir "di hutan, di antara ladang durian". Tak heran bila Tjilik Riwut suka menyebut dirinya "orang hutan".

Waktu itu, Kasongan hanyalah desa kecil di pedalaman Kalimantan. Lokasinya nirakses, kecuali dengan menyusuri Sungai Katingan. Kini, Kasongan berstatus ibu kota Kabupaten Katingan, dan bisa dijangkau lewat perjalanan darat (1 jam 30 menit) dari Palangka Raya, dengan melintasi Jalan Tjilik Riwut.

Tjilik Riwut mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat di Kasongan. Lepas lulus pada 1930, ia belajar di Taman Dewasa--kemungkinan di Yogyakarta. Antara 1933-1936, ia tercatat mengikuti sekolah perawat di Purwakarta.

Ia bersekolah di Jawa berkat bantuan zending.

Kabarnya, keputusan merantau itu tak lepas dari perkara mistis. Konon, Tjilik Riwut dapat wangsit untuk merantau setelah bertapa di Bukit Batu--barisan bukit yang terbentuk dari tumpukan batu-batu besar dengan beberapa celah serupa gua.

Laku tapa merupakan kebiasaan dalam keluarga Tjilik Riwut. Sang ayah, Riwut Dahiang juga kerap bertapa di Bukit Batu. Adapun Tjilik Riwut melakoni kebiasaan itu sedari remaja hingga hari tua.

"Beliau bisa jadi orang besar, asalkan mau menyeberangi lautan. Kebetulan ada tawaran sekolah dari zending," kata Ida Riwut, ihwal wangsit tersebut.

Di Jawa, Tjilik Riwut mulai tertarik dengan jurnalistik. Kiprahnya di bidang penulisan, antara lain bisa dilihat lewat statusnya sebagai redaktur Soeara Pakat, terbitan milik Pakat Dajak-- organisasi kedaerahan yang fokus mendorong kemajuan orang Dayak.

Ia pula yang memimpin pemuda Dayak untuk bersumpah setia kepada Indonesia. Sumpah dilakukan tujuh pemuda Dayak di hadapan Presiden Sukarno, di Gedung Agung, Yogyakarta, pada 17 Desember 1946. Para pemuda itu jadi wakil 185.000 warga, yang mencakup 142 suku Dayak.

Adapun karier militer Tjilik Riwut menonjol sejak tergabung dalam pasukan MN 1001, pada Oktober 1945.

Kala itu, Gubernur Kalimantan, Muhammad Nur mesti berkedudukan di Yogyakarta karena sebagian besar wilayah Borneo dikuasai NICA--kaki tangan Belanda. Guna membebaskan Kalimantan, Muhammad Nur membentuk pasukan MN 1001--kerap disebut "Pasukan Muhammad Nur dengan 1001 cara".

Tjilik Riwut, berpangkat Mayor, menjadi salah satu komandan MN 1001. Ia terlibat dalam beberapa ekspedisi ke Kalimantan untuk menggalang warga bergerilya dan mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.

Tonggak penting tercatat, saat Tjilik ditunjuk Mohammad Nur memimpin Pasukan Payung. "Waktu itu Kalimantan terisolasi dan dijaga ketat Belanda. Beliau (Tjilik Riwut) memberi usul untuk masuk lewat udara dengan terjun payung," cerita Ida Riwut.

Lantaran Indonesia belum punya Pasukan Payung, maka dibuatlah kursus parasutis di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta. Itu adalah sebuah pelatihan darurat, yang berdurasi lima hari dan bermodalkan parasut bekas tentara Jepang. Pun, tidak ada anggota Pasukan Payung yang pernah naik pesawat.

"Supaya berani melakukan terjun bebas, para anggota Pasukan Payung terjun dari menara yang ada di Maguwo," tulis P.M. Laksono dan kawan-kawan dalam Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia - Belajar Dari Tjilik Riwut (2006).

Pada 17 Oktober 1947, Pasukan Payung berangkat dengan menumpang Pesawat Dakota RI 002. Meski tak turut terjun, Tjilik Riwut berperan sebagai komandan dan penunjuk jalan dalam operasi yang melibatkan 14 orang itu.

Mereka terjun ke Sambi, Kotawaringin, lantas menggalang warga setempat guna bergerilya. Momen tersebut kelak diperingati sebagai hari lahir Pasukan Khusus TNI-AU.

Tjilik Riwut, Membangun Rimba Kalimantan

Membangun rimba Palangka Raya

Lima tahun setelah kemerdekaan, Tjilik Riwut diangkat jadi wedana di Sampit. Tak lama berselang, ia dilantik sebagai bupati Kotawaringin Timur hingga 1956.

Antara tahun-tahun itulah muncul desakan membentuk Provinsi Kalimantan Tengah. Tjilik Riwut pun menjadi tokoh penting dalam diplomasi pembentukan provinsi ke-17 itu.

Selaku bupati Kotawaringin, ia mengirim telegram ke pemerintah pusat perihal keinginan orang Dayak membentuk provinsi sendiri, pada Oktober 1956. Menurut ahli sejarah Asia Tenggara, Gerry van Klinken, Tjilik Riwut jadi "pemain kunci" pembentukan Kalimantan Tengah sejak mengirim telegram itu.

Awal 1957, ia diangkat menjadi residen di kantor persiapan pembentukan Kalimantan Tengah yang berkedudukan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tatkala Kalimantan Tengah resmi terbentuk, nama Tjilik Riwut mengemuka sebagai kandidat gubernur.

"Tjilik punya karisma, dan riwayatnya meyakinkan. Terdidik sebagai paramedis, ia telah berjuang sebagai gerilyawan republik di pedalaman Borneo," tulis Gerry van Klinken dalam "Pembentukan Provinsi Dayak di Kalimantan" yang termuat pada buku Antara Daerah dan Negara Indonesia 1950-an (2011).

Suami Clementine Suparti itu resmi menjadi Gubernur Kalimantan Tengah pada 30 Juni 1958.

Pembangunan Palangka Raya merupakan wujud kerjanya sebagai gubernur. Bila Sukarno disebut sebagai konseptor pembangunan Palangka Raya, Tjilik Riwut adalah pelaksana proyek babat alas itu.

"Sebagai seorang gubernur, dia turut menebang pohon, mengangkat batu, beristirahat sambil tiduran bersama para pekerja," tulis Laksono dan kawan-kawan (2006).

Semula, tak sedikit orang yang meragukan pembangunan Palangka Raya sebagai ibu kota Kalimantan Tengah. Pasalnya, kota itu dibangun di atas hutan yang bersisian dengan kampung Pahandut--desa berpenduduk sekitar 900 jiwa di tepi Sungai Kahayan.

Ida Riwut masih ingat pesan bapaknya perihal suara-suara sumbang yang beredar. "Jangan sakit hati, kalau bapakmu dibilang 'gubernur gila'. Tapi 20-30 tahun nanti, mereka akan tahu keinginan Bapak," kata Ida Riwut dengan mata berbinar.

“Ia (Tjilik Riwut) mampu menghadirkan Sukarno sebagai simbol pusat atau simbol Indonesia ke Kalimantan Tengah." P.M. Laksono dan kawan-kawan (2006)

Kehadiran Sukarno pada momen peresmian pembangunan Palangka Raya tak lepas dari diplomasi Tjilik Riwut.

Menurut Ida Riwut, bapaknya memang dekat dengan Bung Karno, relasi keduanya laksana "bapak dan anak". "Mungkin karena Kalimantan Tengah ini provinsi termuda, jadi keduanya sering berkomunikasi dan jadi sangat dekat," kata Ida Riwut.

Dalam film dokumenter 17 Tahun Mengenang Wafatnya Tjilik Riwut (Keluarga Tjilik Riwut, 2004), Arnold Achmad Baramuli pernah mengungkapkan kedekatan Sukarno dan Tjilik Riwut. "Tjilik Riwut itu paling disayang oleh Bung Karno," kata Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah pertama itu.

Di hadapan Bung Karno, Tjilik Riwut pernah mengusulkan pemindahan ibu kota ke Palangka Raya. Cerita itu disampaikan Ruslan Abdulgani--menteri penerangan dan menteri luar negeri era Sukarno--dalam film dokumenter yang sama.

Alkisah, dalam satu forum Dewan Nasional mengemuka gagasan memindahkan ibu kota. Tjilik Riwut pun mengajukan nama Palangka Raya, dan bersambut respons positif dari Bung Karno.

Tjilik Riwut tak hanya karib dengan atasan, tetapi juga dekat dengan warga. Jauh sebelum istilah "blusukan" populer, Tjilik Riwut telah memberi teladan.

Ia tak segan menembus hutan dengan berjalan kaki berhari-hari demi bertemu warga atau sekadar mengawasi pembangunan. Pun bila harus menyusuri sungai, ia tak sungkan menginap di kelotok (perahu).

Urusan makan pun demikian. "Bapak bisa tiba-tiba masuk ke rumah warga, menuju dapur, dan minta makan. Yang punya rumah bisa bingung," kata Ida Riwut. "Beliau seolah menunjukkan bahwa gubernur bisa makan menu yang sama dengan warganya: nasi dan ikan asin."

Adapun Baramuli mengenang Tjilik Riwut sebagai pejabat nan jujur. "Saya tidak lihat ada motivasi memperkaya diri, atau mencari uang untuk kepentingannya," kata Baramuli.

Namun, menyusul Gerakan 30 September dan pergantian kekuasaan, Tjilik Riwut diterpa badai politik.

Pemilik lencana Marsekal Pertama (anumerta) itu mendapat stempel "gubernur Sukarnois" dan mesti melepas jabatannya pada Februari 1967. Ida Riwut mengenang transisi itu beriring dengan sejumlah demonstrasi yang menyasar bapaknya.

Belakangan, beriring ramai isu pemindahan ibu kota, orang-orang kembali menoleh pada usul Tjilik Riwut ihwal pemindahan pusat pemerintahan ke Palangka Raya.


Bila wacana itu terwujud, genaplah mimpi Tjilik Riwut membangun Palangka Raya. Mimpi yang pernah dituliskannya dalam puisi:

Jadikanlah hutan menjadi kota
Membangun Kota Palangka Raya
Sebagai tantangan pada penjajahan Belanda
Mari bekerja bersemangat baja
Palangka Raya harus jadi...
Demi kebahagiaan anak cucu kita!



*Disadur dari berbagai sumber

Posting Komentar

Yuk beri komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak