Tenun ulap doyo khas Dayak Benuaq

Tenun ulap doyo merupakan kerajinan khas sekaligus identitas suku Dayak Benuaq di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kain tenun ini dikenal berkualitas da
Tenun ulap doyo khas Dayak Benuaq

Sebagai warisan budaya, tenun ulap doyo perlu dikenal luas dan dijaga kelestariannya.

Tenun ulap doyo merupakan kerajinan khas sekaligus identitas suku Dayak Benuaq di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kain tenun ini dikenal berkualitas dan ramah lingkungan. Pembuatannya pun tak sembarangan.

Tenun Ulap Doyo diperkirakan telah ada sebelum abad ke-17, dan terkenal sejak masa Kerajaan Kutai. Ulap dalam bahasa setempat berarti kain, dan doyo diambil dari nama tanaman yang jadi bahan pembuatnya.

Di Kalimantan Timur, khususnya Desa Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai, Samarinda, banyak ditemukan tanaman liar serupa pandan dengan daun lebih lebar bernama doyo.

Doyo umumnya tumbuh di lahan pinggiran hutan dan ladang. Serat daunnya diketahui sangat kuat untuk dijadikan benang.

Sedikitnya ada empat jenis varietas doyo yang biasa dijadikan bahan tenun, yaitu doyo temoyo, pentih, biang, dan tulang.

Perempuan suku Dayak Benuaq yang mendiami wilayah tersebut awalnya menenun kain tradisional doyo untuk dijadikan bahan pakaian sehari-hari maupun upacara dan tarian adat.

Pada perkembangannya, ulap doyo kemudian diubah menjadi berbagai kerajinan tangan berbahan dasar kain seperti dompet, tas, hingga hiasan dinding.

Hasil kerajinan tangan yang berciri keras dan kasar ini ternyata diminati pelancong domestik dan mancanegara. Sejak akhir tahun 1970, Desa Tanjung Isuy mulai dikenal sebagai Sentra Kerajinan Tenun Ulap Doyo.

Pada 2016, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutai Barat mematenkan kepemilikan kain tenun ulap doyo.

Tenun ulap doyo dianggap istimewa karena berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Seluruh bahan pembuatnya didapat secara alami. Termasuk pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.


Keistimewaan


Tenun ulap doyo dianggap istimewa karena berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Seluruh bahan pembuatnya didapat secara alami. Termasuk pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Warna hitam diperoleh dari asap hasil pembakaran damar atau serat daun pohon kebuau yang direbus dengan serat daun doyo. Warna merah diperoleh dari batu lado atau batu alam, biji buah gelinggang, dan kulit batang pohon uar. Warna hijau diperoleh dari daun putri malu, warna kuning dari umbi kunyit, dan warna coklat dari akar kayu oter.

Temuan antropologi pernah menyebutkan ada korelasi antara motif pada tenun ulap doyo dengan strata sosial dan identitas pemakainya. Hal tersebut mengindikasikan adanya sistem kasta pada masa lampau. Misalnya motif waniq ngelukng yang digunakan oleh masyarakat biasa, dan motif jaunt nguku digunakan kalangan bangsawan atau raja.

Secara umum, motif dalam kain ulap doyo terinspirasi flora dan fauna yang ada di tepian Sungai Mahakam, atau tema peperangan antara manusia dengan naga. Seluruh motif mengandung filosofi.

Di antaranya motif naga yang melambangkan kecantikan seorang perempuan, motif limar atau perahu sebagai lambang kerja sama dalam usaha, motif timang atau harimau yang melambangkan keperkasaan seorang pria, motif tangga tukar toray atau tangga rebah yang bermakna melindungi usaha dan kerja sama dalam masyarakat, dan berbagai motif lainnya.

Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun doyo perlu disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat halus sambil dibilas di air sungai. Teknik ini disebut juga dilorot. Serat lalu dijemur agar kering, kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar. Benang ini biasanya diberi pewarna alami, baru ditenun menjadi kain.

Seluruh teknik pembuatan tenun ikat doyo menghabiskan waktu cukup lama hingga sebulan. Sejak dipetik, total ada 20 tahapan yang perlu dilalui. Terutama pada saat menenun, harus dilakukan hati-hati jika tak ingin mengulang dari awal.

Untuk itu, tak sembarang orang bisa menguasai teknik ini. Perempuan Dayak Benuaq sudah menguasai proses pembuatan tenun sejak usia belasan, di mana sejak kecil mereka sudah meresapi dan mempelajari cara menenun dari perempuan yang lebih tua.

Prestasi dan hambatan


Mengapresiasi sejumlah keistimewaan tersebut, pada 2013, warisan turun-temurun kain tenun ulap doyo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Berbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagai upaya perlindungan dan pelestarian, ulap doyo kembali ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda untuk kedua kali bersama 32 kain tradisional lainnya.

Bahkan, tenun ini pun kian mendunia karena pernah dipakai untuk acara fesyen di luar negeri, dan banyak digemari oleh masyarakat Internasional.

Walau begitu, pergeseran budaya sempat terjadi dan hambatan masih ditemui.

Bermula tahun 90-an, kawasan hutan dan ladang bebas di Kutai mulai mengikis karena dimanfaatkan lahan komersil. Alhasil, tanaman doyo dan pewarna alami jadi sulit ditemukan. Sebagai alternatif, pewarna alam diganti kimia, dan bahan doyo diganti benang jahit.

Sejauh ini pun masih banyak bahan cetak bermotif mirip ulap doyo yang berkembang, sehingga budaya tenun doyo kurang terangkat.

Beruntung, permintaan tenun ulap doyo yang meningkat oleh pelancong mancanegara dan sejumlah organisasi non-pemerintah di Kalimantan, menggiring pengrajin adat suku dayak Benuaq untuk tetap melestarikan tradisi ulap doyo yang ramah lingkungan.

Itulah mengapa perlu perhatian masyarakat luas dan pemerintah agar budaya tenun ulap doyo yang mulai langka dan terlupakan akan terus berkembang.
budaya kalimantan ragam
Kalimantana
Kalimantana
Blog berbagi seputar investasi, dunia kerja dan hal unik tentang kalimantan.
Posting Komentar
komentar teratas
Terbaru dulu
Daftar Isi
Tautan berhasil disalin.